Derita Saudaraku di Afrika Tengah

28 Februari 2014, 10.30 am

Teringat saya dengan kejadian Muslim Cleansing di Afrika Tengah yang sedang mengalami musibah sosial yang sangat mencengangkan mata dunia namun seakan tidak terpublish pada media televisi. Jelas ada suatu masalah sistemik yang melanda umat Islam di Afrika Tengah sana.

“Saya tidak ingin meninggalkan negeri ini. Saya ingin menjadi Muslim di negara Afrika Tengah terakhir yang meninggalkan negeri ini atau setidaknya Muslim terakhir yang dimakamkan di sini” ujar seorang Iman masjid di Bangui, ibukota Republik Afrika Tengah (CAR). Pernyataan sang Imam menggambarkan kondisi nestapa yang terjadi di sana. Tanpa ada pencegahan massal yang menimpa mereka. Dalam laporan Amnesty International sekitar Rabu (12/2) menyatakan telah mendokumentasikan lebih dari 200 kasus pembunuhan terhadap umat Islam yang dilakukan milisi Kristen sejak Desember lalu. Lebih dari 1000 orang Muslim terbunuh.

Bahkan saya juga tak habis pikir, pasukan perdamaian internasional telah gagal menghentikan pembantaian ini. Pasukan tersebut dianggap tidak melakukan tindakan yang nyata untuk mencegah Muslim cleansing ini.
Kehadiran pasukan Perancis juga ditolak oleh umat Islam karena dianggap memihak pada milisi Kristen. Bahkan ribuan umat Islam melakukan unjuk rasa di ibukota Bangui setelah terjadinya pembunuhan tiga orang Muslim yang dilakukan oleh tentara Prancis.

Kalau kita melihat paparan dari Human Right Watch pada hari kejadian itu, mereka menyatakan populasi minoritas Muslim di negara itu telah menjadi sasaran gelombang kekerasan tanpa henti yang terkoordinasi. Ini memberikan kode bahwa umat Islam dipaksa untuk meninggalkan negara itu.

Bapak Antonio Guteress, kepala Badan Pengungsi PBB mengatakan, dia telah melihat bencana kemanusiaan dengan proporsi tak terkatakan di Afrika Tengah. Ini adalah pembantaian masif etno-religius.
Pembunuhan tanpa pandang bulu dan pembantaian telah terjadi dengan kebiadaban dan kebrutalan yang sangat mencengangkan. 2,5 juta orang terlantar, sebagian besar adalah Muslim. Puluhan ribu orang mengungsi dari kampungnya tapi kemudian terjebak tanpa tujuan. Di Bangui saja ribuan orang berada di dalam ghetto dengan kondisi memprihatinkan.

Pembantaian ini dilakukan dengan sadis tidak berperi kemanusiaan. Milisi Kristen memakan daging seorang Muslim yang dibunuh. Wanita-wanita Muslimah diperkosa. Rumah-rumah dan masjid dibakar dan dihancurkan. Hancur berkeping-keping bak atap rumah rapuh.
Penyiksaan orang Muslim dilakukan di jalan-jalan terbuka. Raut wajah militan Kristen pun tampak gembira dan penuh kesombongan saat melakukan kejahatan itu.

Magloire (Mad Dog-Anjing gila) bahkan dengan sombongnya mengatakan pada media. “Saya menusuk di kepala. Saya tuangkan bensin pada orang Muslim. Saya membakarnya. Lalu saya memakan kakinya, semuanya hingga ke tulang-tulangnya dengan roti. Itulah kenapa orang-orang memanggilku dengan sebutan Mad Dog.
Barat pun tidak begitu peduli dengan apa yang menimpa umat Islam saat ini. Sistem internasional ala kapitalis dengan organ PBB nya gagal. Termasuk penguasa-penguasa negeri Islam pun diam seribu bahasa. Tidak berkutik sedikitpun.

Semua ini menunjukkan bagaimana nasionalisme telah menjadi racun pemikiran yang mematikan bagi umat Islam jika berlama-lama disimpan. Alasan bagi seorang nasionalisme adalah hal itu sama sekali tidak berhubungan dengan kepentingan nasional, penguasa-penguasa negeri Islam tidak mau ambil pusing. Mereka apatis dengan saudara seakidahnya.

Padahal Rasulullah telah mengecam ikatan ashabiyah yang bukan bersumber dari akidah Islam. “Bukan termasuk umatku orang yang mengajak pada ‘ashabiyah’, bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah, bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah’ (HRAbu Dawud).
Belenggu nasionalisme terbukti dengan jelas di mata kita karena mengikis ukhuwah Islamiyah dan kepedulian umat hingga umat Islam menjadi lemah. Negeri-negeri Islam seperti makanan empuk bangsa-bangsa berwatak imperialis kapitalis, meskipun jumlah umat Islam 1,5 Milyar di seluruh dunia. Sungguh ironi dan tak masuk akal.

Maka dari itu, racun nasionalisme sudah selayaknya untuk dibuang jauh-jauh dari pemikiran umat. Bahkan saya masih tidak habis pikir bila masih saja ada orang Islam, aktivis pergerakan yang menyuarakan nasionalisme harga mati. Jujur saya tidak habis pikir, mengapa sedemikian rupa menaruh harga diri sebagai Muslim sangat rendah sekali.
Umat Islam perlu pemerintah berhaluan persatuan global dengan syariah Islam sebagai aturan yang dinamakan Khilafah Islamiyah.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s