Sistem Kapitalisme Sebentar lagi Hancur

ImageImageImage

Kamu sudah tahu belum sebuah ideology di dunia ini ada 3? BIla belum tahu, akan saya beritahu yaitu ideology komunisme, kapitalisme-sekulerisme,dan ideology Islam. Ketiga ideology ini punya sifat dan dasar pemikiran yang sangat mendasar. Dua ideology yaitu komunisme dan kapitalisme itu adalah buatan manusia sedangkan ideology Islam di buat oleh Allah (sang maha pembuat sesuatu). Pada initinya kedua ideology (komunisme dan kapitalisme) menunjukkan ketidakefisienan sebuah pemikiran yang di buat oleh manusia. Komunisme sudah hancur dan mampu bertahan selama 70 tahun saja. Sedangkan kapitalisme dilaunchingkan ideologinya sekitar abad 17 an. Tahun 1924 barulah resmi sebuah ideology kapitalisme itu memimpin secara runut negara-negara Islam dan negara-negara lainnya.

Sudah banyak sekali keruntuhan yang di perlihatkan oeh ideology kapitalisme ini. Mulai dari pendidikan saja sudah kita mengetahui bahwa pendidikan sangat mahal sekali, berbeda halnya dengan ideology Islam saat memimpin dunia sekitar 1200 tahun selepas Rasulullah wafat. Pendidikan diberikan gratis. Kita berhak enerimanya bahkan perbulan kita mendapatkan beasiswa ebebrapa dinar tergantung kebijakan khalifah. Namun saat ini pendidikan dirasa sangat mahal. Coba kalian bayangkan sendiri, pasti kalian pernah melihat orang-orang dan anak-anak yang tak mampu bersekolah. Walaupun pemerintah saat ini memberikan tunjangan emacam beasiswa dan gratis sekolah selama 9 tahun. Itu hanyalah fiktif belaka. Seakan-akan pemerintah takikhlas memrikan bantuan sumbangan dan pendidikan gratis total sampai kelulusan. Buktinya masih ada pembayaran ini itu, uang gedung dan sumbangan-sumbangan lainnya.

Sampai-sampai ada dosen yang berkata “ Kalau kalian tidak membayar dan mengorbankan uang untuk pendidikan kalian seperti beli buku dan penelitian lainnya, maka tidak usah saja sekolah”. Itu hanya segelintir dosen yang pernah saya rekam pembicaraannya. Apakah pantas seorang dosen mengatakn hal demikian, okelah kalau dia belum tahu seluk beluk pendapatan dan penderitaan mahasiswa, namun sehendakanya perkataan itu tak boleh terlontar begitu saja. Menjadi seorang dosen haruslah taat. Menjadi seorang dosen haruslah pengertian akan kondisi mahasiswanya.menjadi seorang dosen haruslah mengerti akan system pendidikan yang sudah ‘mencekik’ hati mahasiswa. Menjadi dosen sudah mestinya harus tahu kondisi psikologis mahasiswa yang kemungkinan besar tidak hanya ia saja mengalami krisis keuangan kelaurga dan lain-lain. Menadi dosen haruslah tahu ilmu psikologi umum yang dapat membantu kondisi pikiran mahasiswanya.

Ketahuialh bahwa seorang pengajar yang baik akan memberikan pengertian yang baik pula pada anak didiknya. Jikalau masalah pendidikan ini saja belum ada solusinya bagaimana mau menajdikan seseorang menjadi ‘agen of change’ jiaklau saja pribadi individunya suka korupsi dan tidak ditanamkan akhlak-akhlak Islam. Malahan lulusan-lulusan di perguruan tinggi saja misalkan mulai merajalelakan pemikiran HAM yang tak berlandas Islam , berpikiran hedonis, memikirkan kelompoknya tertentu saja, dan tak memikirkan masalah apa yang merundung umat muslim lainnya. Bahwa mereka berpedoman “Aku ya Aku , kamu ya kamu”. Sunngguh berbeda sekali dengan jaran Rasulullah bahwa “Umat Islam Itu Ibarat Kata Satu Organ Tubuh, Yang Satu Sakit Maka Akan Merasa Sakit semua”. Sungguh benar-benar ajaran yang toleran pada sesame, melebihi isi dari HAM, emelebihi ilmu psikologis sesroang bahwa seseorang emmerlukan bantuan dari sesamanya, takpandaang ras, agama, kulit maupun bangsa. Subhanallah. Semoga Sholawat dan salam tak pernah kering dari mulut kita untuk ditujukan pada Rasulullah SAW.

Coba kita tengok kasus berikut masih dalam dunia pendidikan:

Pendidikan Mahal, Bukti Alokasi Pendidikan 20% Hanya Jargon Politik
Rabu, 06 Juli 2011, 21:50 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Musim awal masuk tahun ajaran baru sekolah, orang tua siswa selalu dipusingkan dengan biaya awal masuk sekolah yang mahal. Alokasi pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dinilai hanya jargon politik semata. Perlu langkah nyata dari pemerintah.
Pengamat pendidikan Wildan Hasan Syadzili menilai biaya yang mahal saat awal masuk sekolah baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi disebabkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen hanya menjadi jargon politik semata. “Dalam praktiknya tidak sampai 50 persen anggaran itu benar-benar untuk peningkatan mutu pendidikan. Lebih banyak untuk belanja pegawai,” kritiknya di Jakarta, Rabu (6/7).
Situasi demikian, sambung Wildan, ditunjang dengan perangkat peraturan yang mengkondisikan terjadi ketimpangan kualitas pendidikan antardaerah di Indonesia. Hal demikian disebabkan, pemerintah pusat hanya bertanggung jawab dalam pembiayaan pendidikan (education funding) terhadap satuan pendidikan yang diselenggarakan pusat. “Nah, di Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota mereka yang bertanggung jawab sendiri,” paparnya.
Lebih lanjut, menurut mahasiswa Educational Leadership & Management La Trobe Universitas Melbuorne Australia ini, situasi demikian terjadi karena pemegang kebijakan masih menganggap investasi pendidikan hanya dianggap hanya membuang uang. “Padahal di negara lain, pendidikan dijadikan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun SDM demi kepentingan pembangunan ekonomi,” cetusnya.
Dia menuturkan alokasi pendidikan di sejumlah negara lainnya jauh di atas Indonesia. Seperti di Australia sebanyak 46 persen dari APBN, Malaysia 26 persen, Singapura 32 persen, dan Amerika hingga 68 persen.
Ironinya, sistem pendidikan yang tidak berpihak kepada masyarakat banyak, sambung mantan Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah ini, diperparah dengan kualitas pendidikan yang jauh dari kategori baik. “Konyolnya, masyarakat membayar biaya pendidikan yang mahal, namun tidak setimpal dengan kualitas yang didapat,” katanya menambahkan.
Baik pemerintah maupun penyelenggara pendidikan, kata Wildan sama-sama tidak memiliki tanggung jawab. Atas kondisi demikian, dia mengharapkan agar pemerintah dan DPR secara serius menambah dalam menanggung lebih besar biaya pendidikan untuk masyarakat. “Negara arus lebih besar menanggung biaya pendidikan,” sarannya.
Sebagaimana dimaklumi, saat memasuki musim tahun ajaran baru baik di sekolah maupun Perguruan Tinggi (swasta/negeri) para orang tua dipusingkan dengan biaya pendaftaran yang mahal. Untuk pendaftaran SMA saja para orang tua harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah.

Itu hanyalh di bidang politik saja, belum lagi masalah social, politik, ekonomi, perdaganagn, ekonomi, bisnis, pergaulan sesame umat manusia yang berbeda mahram antar laki-laki, militer, agama satu dnegan agama yang lain dan banyak lagi.

Telah Nampak kerusakan di bumi ini dari beragai sudut pandang kehidupan, maka telah terbukti dan sungguh maha benar Allah dalam firman-Nya.

“ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.(QS. Al-‘Araf(7):56).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s